Monday, 2 April 2012

PELAYANAN GIZI PENYAKIT DEGENERATIF

Posted by auliya-0210 at 9:15 am

BAB I
PENDAHULUAN
  
1.1  Latar Belakang
Di Indonesia, penyakit degeneratif saat ini banyak terjadi di kalangan masyarakat perkotaan. Penyebab utamanya adalah perubahan gaya hidup akibat urbanisasi dan modernisasi. Perubahan gaya hidup ini dapat dilihat secara jelas antara lain dengan munculnya tempat-tempat makan junk food di hampir seluruh sudut kota. Junk food adalah makanan tidak sehat karena memiliki nilai nutrisi rendah. Jenis makanan ini mengandung lemak jenuh (saturated fat), garam dan gula, serta bermacam-macam additive seperti monosodium glutamate dan tartrazine dengan kadar yang tinggi. Junk food hampir tidak mengandung protein, vitamin serta serat yang sangat dibutuhkan tubuh.
Di kota-kota besar di Indonesia junk food dijual di berbagai pusat perbelanjaan dan pusat jajanan. Bahkan restoran jenis makanan yang memiliki kadar kolesterol tinggi ini sudah merambah kota-kota kecil di hampir seluruh pelosok tanah air. Pola makan makanan yang serba instan saat ini memang sangat digemari oleh sebagian masyarakat perkotaan. Sebagai contoh, gorengan jenis makanan murah meriah dan mudah didapat karena banyak dijual di pinggir jalan ini rasanya memang enak.
Jajanan seperti pisang goreng, tahu isi, ubi goreng, pisang coklat (piscok), serta banyak yang lain dengan rasanya yang gurih, renyah, dan berharga murah, membuat orang menyukai makanan gorengan. Namun banyak orang yang tidak tahu bahwa makanan gorengan adalah makanan yang memiliki risiko tinggi sebagai pemicu penyakit degeneratif seperti penyakit diabetes melitus, kardiovaskular, serta stroke. Di Indonesia, angka kematian akibat penyakit ini terus meningkat. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (National Household Health Survey) tahun 2001 menunjukkan bahwa penyakit kardiovaskular telah menjadi penyebab kematian paling tinggi di tahun 1992, 1995, dan 2001, padahal pada tahun 1972 baru menempati urutan ke-11.
Penyakit kardiovaskular disebabkan oleh tingginya kadar kolesterol total, LDL, dan trigliserida serta penurunan kadar HDL dalam darah. Peningkatan ini diakibatkan oleh dampak modernisasi yang mengubah perilaku sebagian masyarakat Indonesia menjadi pengonsumsi makanan yang rendah serat dan tinggi lemak. Lebih lanjut hasil penelitian Dr. Rustika menunjukkan bahwa dari 29,70 gram per hari asam lemak jenuh yang dikonsumsi oleh masyarakat, hanya 20% di antaranya atau 5,93 gram per hari yang berasal dari makanan non-gorengan.
Sementara 80% lainnya atau 23,77 gram per hari berasal dari makanan gorengan, setara dengan tiga potong jenis makanan gorengan lauk dan lima potong makanan selingan atau dua potong lauk dan delapan potong makanan selingan. Penyakit degeneratif yang tidak menular ini sejak beberapa dasawarsa silam telah menjadi permasalahan yang cukup serius bagi banyak negara di seluruh dunia. World Health Organization (WHO) mengatakan bahwa penyakit degeneratif ini telah menambah peliknya kondisi kesehatan sebagian negara di dunia, yang selama ini telah dihimpit permasalahan banyaknya kasus penyakit menular dan infeksi yang tergolong non degeneratif.
Lembaga ini juga mengatakan bahwa banyak negara mengalami kerugian hingga miliaran dolar akibat penyakit degeneratif. Oleh karena itu dibutuhkan langkah konkret untuk menanggulanginya. Masih menurut WHO, hingga akhir tahun 2005 saja penyakit degeneratif telah menyebabkan kematian hampir 17 juta orang di seluruh dunia. Jumlah ini menempatkan penyakit degeneratif menjadi penyakit pembunuh manusia terbesar. Jumlah terbesar kematian ada di negara-negara dengan pendapatan nasional rendah hingga tinggi. Seperti masalah kesehatan pada umumnya, penyakit degeneratif juga sangat mempengaruhi banyak faktor dalam kehidupan manusia. Sektor yang paling dipengaruhi adalah sektor ekonomi, karena penyakit ini sangat mempengaruhi produktivitas kerja seseorang.
Laporan terbaru WHO mengatakan bahwa pendapatan tiga negara yang memiliki penderita penyakit degeneratif terbesar yaitu China, India dan Rusia, hingga 10 tahun ke depan diperkirakan dapat mengalami kerugian hingga ratusan miliar dolar. Ini baru dari empat jenis penyakit saja, yaitu stroke, jantung, kanker dan diabetes. WHO Lebih lanjut menyatakan sebanyak satu miliar orang di seluruh dunia saat ini menderita kegemukan, suatu keadaan yang bisa memicu berbagai penyakit degeneratif. Jumlah ini diperkirakan naik menjadi 1,5 miliar pada tahun 2015.

1.2  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah:
1.   Apakah tujuan diet dari penyakit degeneratif?
2.   Apa saja syarat diet dari penyakit degeneratif?
3.   Apa saja jenis diet penyakit degeneratif?
4.   Bagaiman pemberian makanan pada penderita penyakit degeneratif?

1.3  Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.        Mengetahui tujuan diet dari penyakit degeneratif
2.        Mengetahui syarat-syarat diet penyakit degeneratif
3.        Mengetahui jenis diet penyakit degeneratif
4.        Mengetahui indikasi pemberian makanan pada penderita penyakit degeneratif
  
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gambaran Umum Penyakit Degeneratif
   Penyakit degeneratif adalah istilah yang secara medis digunakan untuk menerangkan adanya suatu proses kemunduran fungsi sel saraf tanpa sebab yang diketahui, yaitu dari keadaan normal sebelumnya ke keadaan yang lebih buruk. Penyebab penyakit sering tidak diketahui, termasuk diantaranya kelompok penyakit yang dipengaruhi oleh faktor genetik atau paling sedikit terjadi pada salah satu anggota keluarga (faktor familial) sehingga sering disebut penyakit heredodegeneratif. Cowers tahun 1902 menekankan adanya istilah abiotrophy untuk penyakit degenerative yang artinya menunjukkan adanya penurunan daya tahan sel neuron dan mengakibatkan kematian dini. Konsep di atas mewujudkan hipotesa bahwa proses penuaan (usia) dan penyakit degeneratif dari sel mempunyai proses dasar yang sama.

Gambaran klinis umum penyakit degeneratif:
a)    Perjalanan penyakit lambat, setelah waktu yang lama dari fungsi saraf yang normal, kemudian diikuti kemunduran fungsi susunan saraf tertentu yang bersifat progresif lambat yang dapat berlanjut sampai beberapa tahun atau puluhan tahun. Pasien sulit menentukan kapan penyakit mulai timbul. Adanya riwayat kejadian yang dapat mempresipitasi terjadinya penyakit degeneratif, misalnya kecelakaan, infeksi atau kejadian lain yang diingat sebagai penyakit.
b)   Kejadian penyakit yang sama dalam keluarga (bersifat familial)
c)    Pada umumnya penyakit degeneratif pada sistem saraf akan terjadi terus menerus, tidak dapat diperbaiki oleh tindakan medis atau bedah, kadangkadang penyakit ini ditandai dengan periode yang stabil untuk beberapa lama. Beberapa gejala dapat dikurangi dengan penatalaksanaan yang baik, tetapi penyakitnya sendiri tetap progresif.
d)   Bilateral simetris. Meskipun kadang-kadang misalnya pada Amyotrophic lateral skelerosis mula-mula hanya mengenai satu anggota gerak atau salah satu sisi tubuh, tapi dalam proses selanjutnya menjadi simetris.
e)    Hanya mengenai daerah anatomis/fisiologi susunan saraf pusat secara selektif. Misalnya ALS yang termasuk dalam Motor Neuron Disease yang terkena adalah motor neuron di kortek serebral, batang otak dan medulla spinalis dan terjadi ataksia yang progresif dimana hanya sel purkinye yang terkena.
f)    Secara histologis bukan hanya sel-sel neuron saja yang hilang tapi juga dendrit, axon, selubung mielin yang tidak berhubungan dengan reaksi    jaringan dan respon selular.
g)   Pada likuor serebrospinalis kadang-kadang terdapat sedikit peningkatan protein, tetapi pada umumnya tidak menunjukkan kelainan yang berarti.
h)   Karena menyebabkan kehilangan jaringan secara radiologis terdapat pengecilan volume disertai perluasan ruang likuor serebrospinalis. Permeabilitas sawar darah otak tidak berubah.
i)     Laboratorium atau pemeriksaan penunjang lain sering memberikan hasil yang negatif. Berbeda dengan penyakit susunan saraf pusat progresif lain seperti tumor, infeksi, proses inflamasi lain.
j)     Pemeriksaan neuroimaging dapat menunjukkan kelainan tertentu, sehingga dapat membantu menyingkirkan golongan penyakit lain.

2.2 Faktor Resiko Penyakit Degeneratif
Factor resiko merupaka factor-faktor yang keberadaannya berkedudukan sebelum terjadinya penyakit. Factor resiko dapat berupa semua factor penyebab (etiologi) ditambah dengan factor epidemiologis yang berhubungan secara independen dengan penyakit. Dikenal berbagai macam factor resiko penyakit degenerative, namun secara garis besar dapat dibagi 2, yaitu:
a.    Factor resiko yang manetap atau tidak dapat diubah
Seperti:
·    Umur
Resiko penyakit meningkat seiring dengan pertambahan umur. Penyakit degeneratif memiliki korelasi yang cukup kuat dengan bertambahnya    proses penuaan usia seseorang.
·    Jenis kelamin
Ada beberapa jenis penyakit degenerative yang lebih banyak dialami oleh    pria atau wanita saja.
·      Ras/suku
Orang kulit putih lebih beresiko dari pada orang kulit putih, contohnya     pada kasus hipertensi
·      Geografis
Lebih banyak penderita yang tinggal didaerah pantai dari pada   pegunungan. Di Indonesia, penyakit degeneratif saat ini banyak terjadi di kalangan masyarakat perkotaan. Penyebab utamanya adalah perubahan gaya hidup akibat urbanisasi dan modernisasi. Perubahan gaya hidup ini dapat dilihat secara jelas antara lain dengan munculnya tempat-tempat   makan junk food di hampir seluruh sudut kota
·      Genetic
Memiliki resiko jika salah satu anggota keluarganya memiliki riwayat penyakit tertentu.
b.    Factor resiko yang dapat diperbaiki atau bisa diubah
Seperti :
·    Makanan
Pola makan makanan yang serba instan saat ini memang sangat digemari oleh sebagian masyarakat. banyak orang yang tidak tahu bahwa makanan instan adalah makanan yang memiliki risiko tinggi sebagai pemicu penyakit degeneratif
·    Kebiasaan merokok
·    Alkohol (minuman keras)
Konsumsi alcohol diperkirakan punya efek protektif
·    Obesitas
Obesitas merupakan keadaan berlebihnya lemak tubuh secara absolute maupun relative. Kelebihan lemak tubuh umumnya mengakibatkan peningkatan berat badan dan indeks massa tubuh (IMT)
·    Kurang berolahraga.
·    Pencemaran lingkungan
Munculnya penderita hipertensi disebabkan keracunan Pb yang ditemukan di dalam darah penderita. Penyakit hipertensi ini bisa berkomplikasi dengan jantung, ginjal maupun gula darah.

2.3 Makanan yang Sehat Menurut Rasulullah
   Dalam Hadis Rasulullah disebutkan beberapa jenis makanan dan minuman, berdasarkan nilai gizinya dan faedahnya yang penting. Makanan dalam system pengobatan yang diteladankan oleh Rasulullah kepada kita, sekaligus merupakan sumber gizi dan obat. Bila kita usahakan untuk meneliti apa-apa yang dimakan oleh Rasulullah, akan kita temukan beberapa macam contoh yang membuktikan bahwa Rasulullah benar-benar mengetahui hakikat zat-zat yang terkandung dalam makanan. Misyalnya, kita mendapatkan Rasulullah minum madau bercampur air sebelum sarapan pagi. Rasulullah juga biasa makan daging, dan mengenai daging beliau memberi komentar:
“Daging adalah makanan utama penghuni dunia dan penghuni akhirat.”
  (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan selainnya).

     Prinsip-prinsip hygienis mengenai makanan secara umum dalam system pengobatan Rasulullah, sebagai berikut:
a.    Makanan harus mengandung berbagai jenis unsure-unsur organic yang penting, seperti protein, vitamin, lemak, gula, dan mineral-mineral.
b.    Penekanan atas pentingnya beberapa jenis makanan tertentu secara khusus, seperti susu, daging, madu, kurma dan buah-buahan. Susu, sebagaimana kita ketahui, merupakan bahan makanan ideal karena mengandung berbagai jenis zat organic utama dengan komposisi yang logis; terdiri darinprotein, lemak, gula, mineral-mineral dan aneka macam vitamin. Oleh karena itu, Allah menjadikan susu sebagai satu-satunya makanan bagi bayi yang baru dilahirkan. Susu mengandung unsur-unsur penyusun yang dinilai paling mudah dicerna, mudah diserap dan paling besar khasiatnya.
Sedangkan daging dengan aneka macam jenisnya, adalah bahan makanan yang kaya dengan protein dan gugus asam amino. Daging menjadi bahan makanan yang penting dan mendasar dikarenakan juga memiliki kandungan lemak hewani yang cukup besar, yang kadarnya memang berbeda antara jenis daging yang satu dengan yang lain. Dikarenakan mengandung unsure-unsur mineral penting, beberapa jenis vitamin, daging juga merupakan sumber protein utama yang berperan sangat esensial dalam proses pertumbuhan jaringan tubuh dan penggantian jaringan yang rusak, terutama sesudah menderita sakit keras, kekurangan gizi dan berbagai jenis kecelakaan dan penderitaan.
          Mengenai madu, sudah dapat diketahui memiliki nilai gizi bagi orang yang sehat dan nilai medisnya sebagai obat bagi berbagai jenis penyakit. Hal ini dikarenakan madu mengandung beberapa unsure yang sangat bermanfaat serta memiliki berbagai keutamaan. Madu mampu menyediakan kalori yang cukup tinggi kepada tubuh.
            Adapun kurma, nilai gizinya terletak pada kandungan kadar gula yang tinggi dan teristimewa memiliki berbagai jenis unsure mineral dan zat makanan yang sangat cocok bagi rahim guna menghalangi pendarahan. Kurma juga mengandung zat-zat yang membuat awet muda dan vitamin-vitamin dengan komposisi dan jenis yang cocok untuk berbagai keadaan.
          Zat-zat yang terkandung didalam buah-buahan dan sayur-sayuran sangat berpengaruh terhadap vitalitas dan potensi tubuh, serta penjagaan dari berbagai jenis penyakit. Diriwayatkan dari Rasulullah, bahwasanya beliau senantiasa makan, dan tidak pernah menolak, buah-buahan yang dihasilkan oleh daerah setempat pada musimnya. Sesungguhnya Allah SWT telah menjadikan pada setiap daerah jenis buah-buahan yang dapat dipetik serta diambil manfaatnya oleh penduduk setempat, hal ini diungkapkan oleh Ibnul Qayyim Al-Jauziah, agar mereka sehat dan segar tanpa banyak membutuhkan obat-obatan.
c.    Penekanan tentang perlunya spesifikasi makanan bagi orang yang sakit, dengan pengertian bahwa makanan yang cocok bagi orang yang sehat kadang-kadang justru membahayakan bagi orang yang sakit. Dalam hal ini, ada dua hal yang mendapat perhatian Rasulullah, yaitu:
·        Larangan memaksakan si sakit atas makan makanan tertentu dan bila    dipentingkan memanfaatkan diet bagi pengobatan.
·        Pemberian makanan yang mudah dicerna kepada si sakit, yaitu jenis makanan yang tidak membahayakan ataupun memberatkan lambung.
Rasulullah telah menegaskan masalah ini yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Majah:
“Janganlah kalian memaksakan orang-orang yang sakit kepada   makanan, sesungguhnya Allah memberi mereka makan dan minum.”
d.   Rasulullah menekankan kebersihan makanan dan makanan sedapat mungkin langsung dimakan setelah dihidangkan
e.    Larangan makan secara berlebih-lebihan, atau upaya menghindar dari sifat rakus dan tamak.
f.     Rasulullah senantiasa makan dan meminta daging panggang.
Daging panggang lebih sedikit mengandung lemak daripada yang di goring.
g.    Rasulullah senantiasa mengkombinasikan antara makanan yang segar (mentah) dan makanan yang dimasak, dalam menghidangkan makanan.
h.    Meletakkan norma-norma social dan tingkah laku dalam hal makan, seperti agar orang mengambil makanan yang dekat dengannya, mengunyah makanan perlahan-lahan tanpa terburu-buru, serta tidak makan secara berlebih-lebihan.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1  Tujuan Diet Penyakit Degeneratif
            Tujuan diet disesuaikan dengan jenis penyakitnya, anatara lain:
  1. Tujuan diet penyakit diabetes mellitus
-          Mengendalikan kadar glukosa darah dan tekanan darah
-          Mencegah menurunnya fungsi ginjal
-          Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit
  1. Tujuan diet penyakit jantung
-          Energy cukup, untuk mencapai dan mempertahankan berat badan normal
-          Protein cukup yaitu 0,8 g/kgBB
-          Lemak sedang, yaitu 25-30% dari kebutuhan energy total, 10% berasal dari lemak jenuh, dan 10-15% lemak tidaj jenuh
-          Kolestrol rendah, terutama jika disertai dengan dislipidemia
-          Vitamin dan mineral cukup
-          Garam rendah, 2-3 g/hari, jika disertai hipertensi atau edema
-          Makanan mudah cerna dan tidak menimbulkan gas
-          Serat cukup untuk menghindari konstipasi
-          Cairan cukup, ± 2 l/hari sesuai dengan kebutuhan
-          Bentuk makanan disesuaikan dengan keadaan penyakit, diberikan dalam porsi kecil
-          Bila kebutuhan gizi tidak dapat dipenuhi melalui makanan dapat diberikan tambahan berupa makanan enteral, parenteral, atau suplemen gizi.
  1. Tujuan diet penyakit stroke
-          Memberikan makanan secukupnya untuk memenuhi kebutuhan gizi pasien dengan memperhatikan keadaan dan komplikasi penyakit
-          Memperbaiki keadaan stroke
-          Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit
Intervensi diet dimaksudkan untuk mencapai pola makan yang sehat. Perlu ditekankan bahwa tujuan diet ini bukan untuk sementara, tetapi secara berangsur melakukan perubahan permanen pada perilaku penderita penyakit degeneraatif.

3.2  Syarat Diet Penyakit Degeneratif
              Untuk mencapai tujuan diet di atas diperlukan syarat-syarat sebagai berikut:
a.    Syarat diet penyakit diabetes mellitus
-  Energy cukup untuk mencapai dan mempertahankan berat badan normal
-  Kebutuhan protein normal, yaitu 10-15% dari kebutuhan energy total
-  Kebutuhan lemak sedang, yaitu 20-25% dari kebutuhan energy total
-  Kebutuhan karbohidrat adalah sisa dari kebutuhan energy total, yaitu 60-70%
-  Penggunaan gula murni dalam makanan dan minuman tidak diperbolehkan kecuali jumlahnya sedikit sebagai bumbu
-  Penggunaan gula alternative dalam jumlah terbatas. Gula alternative adalah bahan pemanis selain sakrosa
-  Asupan serat dianjurkan 25 g/hari dengan mengutamakan serat larut air yang terdapat di dalam sayur dan buah
-  Paasien DM dengan tekanan darah normal diperbolehkan mengkonsumsi natrium dalam bentuk garam dapur seperti orang sehat, yaitu 3000 mg/hari
-               Cukup vitamin dan mineral
b.    Syarat diet penyakit jantung
-  Energy cukup, untuk mencapai dan mempertahankan berat badan normal
-  Protein cukup yaitu 0,8 g/kgBB
-  Lemak sedang, yaitu 25-30% dari kebutuhan energy total
-  Kolestrol rendah
-  Vitamin dan mineral cukup
-  Garam rendah, 2-3 g/hari, jika disertai hipertensi atau edema
-               Makanan mudah cerna dan tidak menimbulkan gas
-  Serat cukup untuk menghindari konstipasi
-  Cairan cukup, ± 2 l/hari sesuai dengan kebutuhan
-  Bentuk makanan disesuaikan dengan keadaan penyakit, diberikan dalam porsi kecil
-  Bila kebutuhan gizi tidak dapat dipenuhi melalui makanan dapat diberikan tambahan berupa makanan enteral, parenteral, atau suplemen gizi
c.    Syarat diet penyakit stroke
-  Energy cukup, yaitu 25-45 kkal/kgBB. Pada fase akut energy diberikan 1100-1500 kkal/hari
-  Protein cukup, yaitu 0,8-1 g/kgBB. Apabila pasien berada dalam keadaan gizi kurang, protein diberikan 1,2-1,5 g/kgBB
-  Lemak cukup, yaitu20-25% dari kebutuhan energy total. Utamakan sumber lemak tidak jenuh ganda, batasi sumber lemak jenuh
-  Karbohidrat cukup, yaitu 60-70% dari kebutuhan energy total
-  Vitamin cukup
-  Mineral cukup
-  Serat cukup, untuk membantu menurunkan kadar kolestrol darah dan mencegah konstipasi
-  Cairan cukup, yaitu 6-8 gelas/hari, kecuali pada keadaan edema, cairan dibatasi
-  Bentuk makanan disesuaikan dengan keadaan pasien
-  Makanan diberikan dalam porsi kecil dan sering

3.3  Jenis Diet Penyakit Degeneratif
        Penetapan diet ditentukan oleh jenis penyakit, keadaan pasien dan program pengobatan, dimana tiap penyakit memiliki ciri khas atau diet tersendiri.
  1. Diet pada penatalaksanaan Diabetes Mellitus (DM) dikontrol berdasarkan kandungan energy, protein, lemak, dan karbohidrat.
  2. Diet penyakit jantung terdiri atas:
-  Diet jantung I, diberikan pada pasien penyakit jantung akut. Diet diberikan berupa 1-1,5 l cairan/hari selama 1-2 hari pertama bila pasien dapat menerimanya.
-  Diet jantung II, diberikan dalam bentuk makanan saring atau lunak. Diet diberikan sebagai perpindahan dari diet jantung I, atau setelah fase akut dapat diatasi. Jika disertai hipertensi dan/atau edema, diberikan sebagai diet jantung II garam rendah. Diet ini rendah energy, protein, kalsium, dan tiamin.
-  Diet jantung III, diberikan dalam bentuk makanan lunak atau biasa. Diet diberikan sebagai perpindahan dari diet jantung II atau kepada pasien jantung dengan kondisi yang tidak terlalu berat. Jika disertai hipertensi dan/atau  edema, diberikan sebagai diet jantung III garam rendah. Diet ini rendah energy dan kalsium, tetapi cukup zat gizi lain
-  Diet jantung IV, diberikan dalam bentuk makanan biasa. Diet diberikan sebagai perpindahan dari diet jantung III atau kepada pasien jantung dengan keadaan ringan. Jika disertai hipertensi dan/atau edema, diberikan sebagai diet jantung IV garam rendah. Diet ini cukup energy dan zat gizi lain, kecuali kalsium.
  1. Diet penyakit stroke
-  Energy cukup, yaitu 25-45 kkal/kgBB. Pada fase akut energy diberikan 1100-1500 kkal/hari
-  Protein cukup, yaitu 0,8-1 g/kgBB. Apabila pasien berada dalam keadaan gizi kurang, pprotein diberikan 1,2-1,5 g/kgBB. Apabila penyakit disertai komplikasi gagal ginjal kronik, protein diberikan rendah yaitu 0,6 g/kgBB
-  Lemak cukup, yaitu 20-25% dari kebutuhan energy total. Utamakan sumber tidak jenuh ganda, batasi sumber lemak jenuh yaitu <10% dari kebutuhan energy total. Kolestrol dibatasi <300 mg
-  Karbohidrat cukup, yaitu 60-70% dari kebutuhan energy total
-  Vitamin cukup
-  Mineral cukup
-  Serat cukup, untuk membantu menurunkan kadar kolestrol darah
-  Cairan cukup. Minuman hendaknya diberikan setelah selesai makan agar porsi makanan dapat dihabiskan
-  Bentuk makanan disesuaikan dengan keadaan pasien
-  Makanan diberikan dalam porsi kecil dan sering 

BAB IV
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil pembahasan mengenai pelayanan gizi penyakit degeneratif, adalah:
1.        Penyebab utama timbulnya penyakit degenerative adalah perubahan gaya hidup (merokok, minuman keras, makan makanan yang berlemak, dan lain-lain)
2.        Penyakit degeneratif adalah istilah yang secara medis digunakan untuk menerangkan adanya suatu proses kemunduran fungsi sel saraf tanpa sebab yang diketahui, yaitu dari keadaan normal sebelumnya ke keadaan yang lebih buruk.
3.        Factor resiko penyakit degenerative dapat digolongkan atas dua bagian; 1). Factor resiko yang tetap atau tidak dapat diubah, dan 2). Factor resiko yang tidak menetap atau dapat diubah
4.        Rasulullah Saw sangat mengedepankan prinsip hygiene dalam hal makanan
5.        Tujuan, syarat dan jenis diet disesuaikan dengan keadaan pasien dan penyakit yang diderita

B.       Saran
Diperlukan keahlian khusus dan tenaga yang terampil dibidang gizi untuk menangani pasien yang menderita penyakit degenerative. Dalam menyusun menu untuk pasien penyakit degenerative harus memperhatikan syarat, tujuan, dan jenis diet.
      


PRAKTIKUM GIZI : PENGUKURAN ANTROPOMETRI

Posted by auliya-0210 at 9:11 am

A.   TUJUAN
1.    Untuk menentukan status gizi perseorangan dengan menetukan Indeks Massa Tubuh (IMT), Waist to Hip Ratio (WHR), Lingkar Lengan Atas (LILA), dan Tebal Lipatan Kulit (TLK).

B.   DASAR TEORI
Pengertian antropometri dari sudut pandang gizi telah banyak diungkapkan oleh para ahli, salah satunya adalah Jelliffe (1996) mengungkapkan bahwa:
“Nutritional anthtropometry is measurement of the variations of the physical dimensions and the gross composition of the human body at different age levels and degree of nutrition”.
Dari definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa antropometri gizi adalah berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Antropometri sangat umum digunakan untuk mengukur status gizi dari berbagai ketidakseimbangan antara asupan protein dan energi. Gangguan biasanya terlihat dari pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh. Berbagai jenis ukuran tubuh dalam antropometri antara lain berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, lingkar pinggang, lingkar panggul, lingkar lengan atas dan tebbal lemak di bawah kulit.
Adapun syarat-syarat yang mendasari penggunaan antropometri adalah:
1.    Alatnya mudah didapat dan digunakan.
2.    Pengukuran dapat dilakukan berulang-ulang dengan mudah dan objektif.
3.    Pengukuran bukan hanya dilakukan oleh tenaga khusus profesional, tetapi juga oleh tenaga lain setelah dilatih untuk itu.
4.    Biaya relatif murah, karena alat mudah didapat dan tidak memerlukan bahan-bahan lainnya.
5.    Hasilnya mudah disimpulkan karena mempunyai ambang batas (cut off points) dan baku rujukan yang sudah pasti.
6.    Secara ilimiah diakui kebenarannya. Hmpir semua negara menggunakan antropometri sebagai metode untuk mengukur status gizi masyarakat, khususnya penapisan (screening) status gizi. Hal ini dikarenakan antropometri diakui kebenarannya secara ilmiah.
Dengan memperhatikan faktor-faktor diatas, maka di bawah ini merupakan keunggulan antropometri gizi, yaitu:
1.    Prosedurnya sederhana, aman dan dapat dilakukan dalam jumlah sampel yang besar.
2.    Relatif tidak membutuhkan tenaga ahli, tetapi cukup dilakukan oleh tenaga yang sudah dilatih dalam waktu singkat.
3.    Alatnya murah, mudah dibawa, tahan lama, dapat dipesan dan dibuat di daerah setempat.
4.    Metode ini tepat dan akurat karena dapat dibakukan.
5.    Dapat mendeteksi atau menggambarkan riwayat gizi di masa lampau.
6.    Umumnya dapat mengidentifikaasi status gizi sedang, kurang, dan gizi buruk karena sudah ada ambang batas yang jelas.
7.    Metode antropometri dapat mengevaluasi perubahan status gizi pada periode tertentu, atau dari satu generasi ke generasi berikutnya.
8.    Metode antropometri gizi dapat digunakan untuk penapisan kelompok yang rawan terhadap gizi.
Namun disamping keunggulan tersebut, penentuan status gizi secara antropometri juga memiliki beberapa kelemahan, yaitu:
1.    Tidak sensitif. Metode ini tidak dapat mendeteksi status gizi dalam waktu singkat. Di samping itu tidak dapat membedakan kekurangan zat gizi tertentu seperti Zinc dan Fe (zat besi).
2.    Faktor di luar gizi (penyakit, geneik, dan penurunan penggunaan energi) dapat menurunkan spesifikasi dan sensitivitas pengukuran antropometri.
3.    Kesalahan yang terjadi pada saat pengukuran dapat mempengaruhi presisi, akurasi, dan validitas pengukuran antropometri gizi.
Antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan dengan mengukur beberapa parameter. Parameter adalah ukuran tunggal dari tubuh manusia, antara lain:
a.    Umur
Faktor umur sangat penting dalam penentuan status gizi. Kesalahan penentuan umur akan menyebabkan interpretasi status gizi menjadi salah. Hasil pengukuran tinggi badan dan berat badan yang akurat, akan menjadi tidak berarti bila tidak disertai dengan penentuan umur yang tepat.
Menurut Puslitbang Gizi Bogor (1980), batasan umur yang digunakan adalah tahun umur penuh (Completed Year) dan untuk anak umur 0-2 tahun digunakan bulan usia penuh (Completed Month).
b.    Berat Badan
Berat badan merupakan ukuran antropometri yang terpenting dan paling sering digunakan pada bayi baru lahir (neonatus). Berat badan digunakan untuk mendiagnosa bayi normal atau BBLR. Dikatakan BBLR apabila berat bayi lahir di bawah 2500 gram atau di bawah 2,5 kg. Pada masa bayi-balita, berat badan dapat digunakan untuk melihat laju pertumbuhan fisik maupun status gizi, kecuali terdapat kelainan klinis seperi dehidrasi, asites, edema, dan adanya tumor. Di samping itu pula berat badann dapat dipergunakan sebagai dasar perhitungan obat dan makanan.
Berat badan menggambarkan jumlah dari protein, lemak, air dan mineral pada tulang. Pada remaja, lemak tubuh cenderung meningkat dan protein otot menurun.
Pada orang yang edema dan asites terjadi penambahan cairan dalam tubuh. Sedangkan adanya tumor dapat menurunkan jaringan lemak dan otot, khususnya terjadi pada orang kekurangan gizi.
c.    Tinggi Badan
Tinggi badan merupakan parameter yang penting bagi keadaan yang telah lalu dan keadaan sekarang, jika umur tidak diketahui dengan tepat. Di samping itu, tinggi badan merupakan ukuran kedua yang penting karena dengan menghubungkan berat badan terhadap tinggi badan (Quac stick), faktor umur dapat dikesampingkan. Pengukuran tinggi badan pada umumnya dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut Microtoice yang mempunyai ketelitian 0,1 cm.
d.    Lingkar Lengan Atas
Lingkar lengan atas (LILA) dewasa ini merupakan salah satu pilihan untuk penentuan status gizi, karena mudah dilakukan dan tidak memerlukan alat-alat yang sulit diperoleh dengan harga yang lebih murah. Akan tetapi, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian, terutama jika digunakan sebagai pilihan tunggal untuk indeks status gizi, antara lain:
·      Baku lingkar lengan atas yang dugunakan sekarang belum mendapat pengujian yang memadai untuk digunakan di Indonesia. Hal ini didasarkan pada hasil-hasil penelitian yang umumnya menunjukkan perbedaan angka prevalensi KEP yang cukup berarti antar penggunaan LILA di satu pihak dengan berat bedan menurut umur atau berat menurut tinggi badan maupun indeks-indeks lain di pihak lain.
·      Kesalahan pengukuran pada LILA (pada berbagai tingkat keterampilan pengukur)relatif lebih besar dibandingkan dengan tinggi badan, mengingat batas antara baku dengan gizi kurang, lebih sempit pada LILA daripada tinggi badan. Ini berarti kesalahan yang sama besar jauh lebih berarti pada LILA dibandingkan dengan tinggi badan.
·      Lingkar lengan atas sensitif untuk suatu golongan tertentu (prasekolah), tetapi kurang sensitif pada golongan lain terutama orang dewasa. Tidak demikian halnya dengan berat badan.
Alat ukur yang digunakan merupakan suatu pita pengukur yang terbuat dari fiberglass atau jenis kertas tertentu berlapis plastik.
e.    Lingkar Pinggang dan Pinggul
Pengukuran lingkar pinggang dan pinggul harus dilakukan oleh tenaga yang terlatih dan posisi pengukuran harus tepat. Perbedaan posisi penguuran akan memberikan hasil yang berbeda. Seidell, dkk (1987) memberikan petunjuk bahwa rasio lingkar pinggang dan pinggul untuk perempuan adalah 0,77 dan 0,90 untuk laki-laki.
f.     Lingkar Kepala
Lingkar kepala adalah standar prosedur dalam ilmu kedokteran anak secara praktis, yang biasanya untuk memeriksa keadaan patologi dari besarnya kepala atau peningkatan ukuran kepala. Contoh yang sering digunakan adalah kepala besar (hidrosefalus) dan kepala kecil (mikrosefalus).
Lingkar kepala terutama dihubungkan dengan ukuran otak dan tulang tengkorak. Ukuran otak meningkat secara cepat pada tahun pertama, akan tetapi besar lingkaran kepala tidak menggambarkan keadaan kesehatan dan gizi. Bagaimanapun juga ukuran otak dan lapisan tulang kepala dan tengkorak dapat bervariasi sesuai dengan keadaan gizi.
Dallam antropometri gizi, rasio lingkar kepala dan lingkar dada cukup berarti dalam menentukan KEP pada anak. Lingkar kepala dapat juga digunakan sebagai informasi tambahan dalam pengukuran umur.
g.    Lingkar Dada
Pengukuran lingkar dada biasanya dilakukan pada anak yang berumur 2-3 tahun, karena rasio lingkar kepala dan lingkar dada sama pada umur 6 bulan. Setelah umur ini, tulang tengkorak tumbuh secara lambat dan pertumbuhan dada lebih cepat. Umur antara 6 bulan dan 5 tahun, rasio lingkar kepala dan lingkar dada adalah kurang dari 1. Hal ini dikarenakan akibat kegagalan perkembangan dan pertumbuhan atau kelemahan otot dan lemak pada dinding dada. Ini dapat digunakan sebagai indikator dalam menentukan KEP pada anak balita.
h.    Tebal Lemak di Bawah Kulit
Pengukuran lemak tubuh melalui pengukuran ketebalan lemak bawah kulit(skinfold) dilakukan pada beberapa bagian tubuh, misalnya padambagian lengan atas (biceps dan triceps), lengan bawah (forearm), tulang belikat (subscapular), di tengah garis ketiak (midaxillary), sisi dada (pectoral), perut (abdominal), paha (suuprailiaca), tempurung lutut (suprapatellar), dan pertengahan tungkai bawah (medial calf).
  
C.   ALAT YANG DIGUNAKAN
1.    Timbangan Seca (mengukur berat badan)
2.    Microtoice (mengukur tinggi badan)
3.    Alat ukur tinggi lutut
4.    Pita LILA
5.    Pita Lingkar Pinggang
6.    Skinfold Caliper

D.   PROSEDUR PENGUKURAN
a.    Berat Badan
1.    Subjek mengenakan pakaian biasa (usahakan dengan pakaian yang minimal) serta tidak mengenakan alas kaki.
2.    Pastikan timbangan berada pada penunjukan skala dengan angka 0,0.
3.    Subjek berdiri diatas timbangan dengan berat yang tersebar merata pada kedua kaki dan posisi kepala dengan pandangan lurus ke depan. Usahakan tetap tenang.
4.    Bacalah berat badan pada tampilan dengan skala 0,1 kg terdekat.

b.   Tinggi Badan
1.    Subjek tidak mengenakan alas kaki, lalu posisikan subjek tepat di bawah Microtoice.
2.    Kaki rapat, lutut lurus, sedangkan tumit, pantat dan bahu menyentuh dinding vertikal.
3.    Subjek dengan pandangan lurus ke depan, kepala tidak perlu menyentuh dinding vertikal. Tangan dilepas ke samping badan dengan telapak tangan  menghadap paha.
4.    Mintalah subjek untuk menarik napas panjang dan berdiri tegak tanpa mengangkat tumit untuk membantu menegakkan tulang belakang. Usahakan bahu tetap santai.
5.    Tarik Microtoice hingga menyentuh ujung kepala, pegang secara horisontal. Pengukuran tinggi badan diambil pada saat menarik napas maksimum, dengan mata pengukur sejajar dengan alat penunjuk angka untuk menghindari kesalahan penglihatan.
6.    Catat tinggi badan pada skala 0,1 cm terdekat.

c.    Tinggi Lutut
1.    Objek duduk dengan salah satu kaki ditekuk hingga membentuk sudut 90o proximal hingga patella. Gunakan mistar siku-siku untuk menentukan sudut yang dibentuk.
2.    Letakkan alat ukur dengan dasar (titik 0) pada titik tengah lutut dan tarik hingga telapak kaki.
3.    Baca alat ukur hingga 0,1 cm terdekat.

d.   LILA
1.    Subjek diminta untuk berdiri tegak.
2.    Tanyakan kepada subjek lengan mana yang aktif digunakan. Jika yang aktif digunakan adalah lengan kanan, maka yang diukur adalah lengan kiri, begitupun sebaliknya.
3.    Mintalah subjek untuk membuka lengan pakaian yang menutup lengan yang tidak aktif digunakan.
4.    Untuk menentukan titik mid point lengan ditekuk hingga membentuk sudut 90o, dengan telapak tangan menghadap ke atas. Pengukur berdiri di belakang subjek dan menentukan titik tengah antara tulang atas pada bahu dan siku.
5.    Tandailah titik tersebut dengan pulpen.
6.    Tangan kemudian tergantung lepas dan siku lurus di samping badan serta telapak tangan menghadap ke bawah.
7.    Ukurlah lingkar lengan atas pada posisi mid point dengan pita LILA menempel pada kulit. Perhatikan jangan sampai pita menekan kulit atau ada rongga antara kulit dan pita.
8.    Catat hasil pengukuran pada skala 0,1 cm terdekat

e.    Lingkar Pinggang
1.    Subjek menggunakan pakaian yang longgar (tidak menekan) sehingga alat ukur dapat diletakkan dengan sempurna. Sebaiknya pita pengukur tidak berada di atas pakaian yag digunakan.
2.    Subjek berdiri tegak dengan perut dalam keadaan yang rileks.
3.    Letakkan alat ukur melingkari pinggang secara horisontal, dimana merupakan bagian terkecil dari tubuh. Bagi subjek yang gemuk, dimana sukar menentukan bagian paling kecil, maka daerah yang diukur adalah antara tulang rusuk dan tonjolan iliaca. Seorang pembantu diperlukan untuk meletakkan alat ukur dengan tepat.
4.    Lakukan pengukuran di akhir ekspresi yang normal dengan alat ukur tidak menekan kulit.
5.    Bacalah hasil pengukuran pada pita hingga 0,1 cm terdekat.

f.     Lingkar Panggul
1.    Subjek mengenakan pakaian yang tidak terlalu menekan.
2.    Subjek berdiri tegak dengan kedua lengan berada pada sisi tubuh dan kaki rapat.
3.    Pengukur jongkok di samping subjek sehingga tingkat maksimal dari panggul terlihat.
4.    Lingkarkan alat pengukur secara horisontal tanpa menekan kulit. Seorang pembantu diperlukan untuk mengatur posisi alat ukur pada sisi lainnya.
5.    Bacalah dengan teliti hasil pengukuran pada pita hingga 0,1 cm tterdekat.

g.    Tebal Lipatan Kulit (Triceps dan Subscapular)
1.    Pegang Skinfold Caliper dengan tangan kanan.
2.    Untuk triceps, pengukuran dilakukan pada titik mid point sedangkan untuk subscapular, pengukur meraba scapula dan meencarinya ke arah bawah lateral sepanjang batas vertebrata sampai menentukan sudut bawah scapula.
3.    Angkat lipatan kulit pada jarak kurang lebih 1 cm tegak lurus arah kulit pada pengukuran triceps (ibu jari dan jari telunjuk menghadap ke bawah) atau ke arah diagonal untuk pengukuran subscapular.
4.    Jepit lipatan kulit tersebut dengan Caliper dan baca hasil pengukurannya dalam 4 detik penekanan kulit oleh Caliper dilepas.

E.    HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengukuran antropometri yang dilakukan pada praktikum ini antara lain pengukuran berat badan dan tinggi badan untuk menentukan Indeks Massa Tubuh (IMT), pengukuran lingkar pinggang dan panggul untuk menentukan WHR, tebal lemak di bawah kulit pada triceps dan subscapular untuk menentukan % lemak tubuh (%BF), pengukuran LILA, serta pengukuran tinggi lutut. Hasil yang diperoleh dari semua pengukuran tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

No
Nama
BB (cm )
TB (cm)
LPi (cm)
LPa (cm)
Triceps
Sub-scapular
LILA (cm)
Tinggi Lutut (cm)
1.
Anna
44,7
148,1
60,3
86,1
25
15
24,1
46,5
2.
Asbianri
39,3
150,5
59,0
83,9
10
9
20,6
48,0
3.
Haryati
46,8
150,6
66,7
90,2
29
15
24,3
47,3
4.
Husnul
51,2
157,9
63,0
92,0
17
11
24,0
48,2
5.
Jurniati
52,6
157,2
68,0
90,0
21
23
26,0
55,0
6.
Ilham
56,9
161,9
64,5
87,5
6
9
25,1
51,5

Penentuan status gizi kemudian dilakukan dengan menggunakan hasil pengukuran di atas dalam perhitungan rumus untuk IMT, WHR, dan % BF. Hasil perhitungan untuk masing-masing subjek dijabarkan sebagai berikut:
a.    Anna (Subjek I)
·      IMT   =  BB (kg)
   (TB)2 (m)
=  44,7
  (1,481)2
=  44,7
    2,19
= 20,4
Untuk IMT yang berdasar pada tinggi lutut, digunakan rumus sebagai berikut:
                     TB (wanita) =  (1,91 x TL) – (0,17 x umur) + 75,0
                                         =  (1,91 x 46,5) – (0,17 x 20) + 75,0
                                         =  88,8 – 3,4 + 75,0
                                         =  160,4
Jadi, IMT berdasarkan tinggi lutut adalah:
IMT   =  44,7
            (1,6)2
         =  44,7
             2,57
         =  17,4
Dari perhitungan diatas diperoleh hasil IMT Anna = 20,4. Jadi berdasarkan klasifikasi IMT, Subjek I termasuk dalam kategori normal. Sedangkan berdasarkan tinggi lutut diperoleh nilai IMT = 17,4 sehingga subjek termasuk dalam kategori kekurangan berat badan tingkat ringan.
·      WHR  =   LPi
   LPa
=   60,3
     86,1
=   0,70
Dari perhitungan diatas diperoleh hasil WHR Anna = 0,70. Jadi berdasarkan klasifikasi WHR, Subjek I termasuk dalam kategori risiko low.
·      % BF  =  [(4,76/Db) – 4,28] x 100
Db  = 1,0897 – 0,00133 (Σ tricep + subscapula)
       = 1.0897 – 0,00133 (25 + 15)
       = 1,0897 – 0,00133 (40)
       = 1,0897 – 0,0532
       = 1,0365
% BF  =  [(4,76 / 1,0365) – 4,28] x 100
          =  [4,59 – 4,28] x 100
          =  31 %
Dari perhitungan diatas diperoleh % BF = 31 %. Berdasarkan klasifikasi % BF, maka subjek I termasuk dalam kategori fat.
Sedangkan untuk pengukuran LILA diperoleh hasil 24,1 yang berarti subjek termasuk dalam kategori normal.
b.    Asbianri (Subjek II)
·      IMT   =  BB (kg)
   (TB)2 (m)
=  39,3
  (1,505)2
=  39,3
    2,27
= 17,3
Untuk IMT yang berdasar pada tinggi lutut, digunakan rumus sebagai berikut:
TB (wanita)   =  (1,91 x TL) – (0,17 x umur) + 75,0
                     =  (1,91 x 48,0) – (0,17 x 22) + 75,0
                     =  91,68 – 3,74 + 75,0
                     =  162,94
Jadi, IMT berdasarkan tinggi lutut adalah:
IMT   =   39,3
            (1,629)2
         =  39,3
             2,65
         =  14,8
Dari perhitungan diatas diperoleh hasil IMT Asbianri = 17,3. Jadi berdasarkan klasifikasi IMT, Subjek II termasuk dalam kategori kekurangan berat badan tingkat ringan. Sedangkan berdasarkan tinggi lutut diperoleh nilai IMT = 14,8 sehingga subjek termasuk dalam kategori kekurangan berat badan tingkat berat.
·      WHR  =   LPi
   LPa
=   59
    83,9
=   0,70
Dari perhitungan diatas diperoleh hasil WHR Asbianri = 0,70. Jadi berdasarkan klasifikasi WHR, Subjek II termasuk dalam kategori risiko low.
·      % BF  =  [(4,76/Db) – 4,28] x 100
Db  = 1,0897 – 0,00133 (Σ tricep + subscapula)
       = 1.0897 – 0,00133 (10 + 9)
       = 1,0897 – 0,00133 (19)
       = 1,0897 – 0,0252
       = 1,0645
% BF  =  [(4,76 / 1,0645) – 4,28] x 100
          =  [4,47 – 4,28] x 100
          =  19 %
Dari perhitungan diatas diperoleh % BF = 19 %. Berdasarkan klasifikasi % BF, maka subjek II termasuk dalam kategori optimal.
Sedangkan untuk pengukuran LILA diperoleh hasil 20,6 yang berarti subjek termasuk dalam kategori KEK (Kurang Energi Kronik).
c.    Haryati (Subjek III)
·      IMT   =  BB (kg)
   (TB)2 (m)
=  46,8
  (1,506)2
=  46,8
    2,27
= 20,6
Untuk IMT yang berdasar pada tinggi lutut, digunakan rumus sebagai berikut:
TB (wanita)   =  (1,91 x TL) – (0,17 x umur) + 75,0
                     =  (1,91 x 47,3) – (0,17 x 21) + 75,0
                     =  90,34 – 3,57 + 75,0
                     =  161,7
Jadi, IMT berdasarkan tinggi lutut adalah:
IMT   =  46,8
            (1,617)2
         =  46,8
             2,62
         =  17,9
Dari perhitungan diatas diperoleh hasil IMT Haryati = 20,6. Jadi berdasarkan klasifikasi IMT, Subjek III termasuk dalam kategori normal. Sedangkan berdasarkan tinggi lutut diperoleh nilai IMT = 17,9 sehingga subjek juga termasuk dalam kategori normal.
·      WHR  =   LPi
   LPa
=   66,7
     90,2
=   0,74
Dari perhitungan diatas diperoleh hasil WHR Haryati = 0,74. Jadi berdasarkan klasifikasi WHR, Subjek III termasuk dalam kategori risiko moderate.
·      % BF  =  [(4,76/Db) – 4,28] x 100
Db  = 1,0897 – 0,00133 (Σ tricep + subscapula)
       = 1.0897 – 0,00133 (29 + 15)
       = 1,0897 – 0,00133 (44)
       = 1,0897 – 0,0582
       = 1,0315
% BF  =  [(4,76 / 1,0315) – 4,28] x 100
          =  [4,64 – 4,28] x 100
          =  36 %
Dari perhitungan diatas diperoleh % BF = 36 %. Berdasarkan klasifikasi % BF, maka subjek III termasuk dalam kategori obesitas.
Sedangkan untuk pengukuran LILA diperoleh hasil 24,3 yang berarti subjek termasuk dalam kategori normal.
d.    Husnul Hidayah (Subjek IV)
·      IMT   =  BB (kg)
   (TB)2 (m)
=  51,2
  (1,579)2
=  51,2
    2,49
= 20,6
Untuk IMT yang berdasar pada tinggi lutut, digunakan rumus sebagai berikut:
TB (wanita)   =  (1,91 x TL) – (0,17 x umur) + 75,0
                     =  (1,91 x 48,2) – (0,17 x 20) + 75,0
                     =  92,06 – 3,4 + 75,0
                     =  163,7
Jadi, IMT berdasarkan tinggi lutut adalah:
IMT   =  51,2
            (1,637)2
         =  51,2
             2,68
         =  19,1
Dari perhitungan diatas diperoleh hasil IMT Husnul = 20,6. Jadi berdasarkan klasifikasi IMT, Subjek IV termasuk dalam kategori normal. Sedangkan berdasarkan tinggi lutut diperoleh nilai IMT = 19,1 sehingga subjek juga termasuk dalam kategori normal. 
·      WHR  =   LPi
   LPa
=   63,0
     92,0
=   0,68
Dari perhitungan diatas diperoleh hasil WHR Husnul = 0,68. Jadi berdasarkan klasifikasi WHR, Subjek IV termasuk dalam kategori risiko low.
·      % BF  =  [(4,76/Db) – 4,28] x 100
Db  = 1,0897 – 0,00133 (Σ tricep + subscapula)
       = 1.0897 – 0,00133 (17 + 11)
       = 1,0897 – 0,00133 (28)
       = 1,0897 – 0,0372
       = 1,0525
% BF  =  [(4,76 / 1,0525) – 4,28] x 100
          =  [4,52 – 4,28] x 100
          =  24 %
Dari perhitungan diatas diperoleh % BF = 24 %. Berdasarkan klasifikasi % BF, maka subjek IV termasuk dalam kategori slighly overfat.
Sedangkan untuk pengukuran LILA diperoleh hasil 24,0 yang berarti subjek termasuk dalam kategori normal.
e.    Jurniati (Subjek V)
·      IMT   =  BB (kg)
   (TB)2 (m)
=  52,6
  (1,572)2
=  52,6
    2,47
= 21,3
Untuk IMT yang berdasar pada tinggi lutut, digunakan rumus sebagai berikut:
TB (wanita)   =  (1,91 x TL) – (0,17 x umur) + 75,0
                     =  (1,91 x 55,0) – (0,17 x 20) + 75,0
                     =  105,5 – 3,4 + 75,0
                     =  177,1
Jadi, IMT berdasarkan tinggi lutut adalah:
IMT   =  55,0
            (1,771)2
         =  55,0
             3,14
         =  17,5
Dari perhitungan diatas diperoleh hasil IMT Jurni = 21,3. Jadi berdasarkan klasifikasi IMT, Subjek I termasuk dalam kategori normal. Sedangkan berdasarkan tinggi lutut diperoleh nilai IMT = 17,5 sehingga subjek termasuk dalam kategori kekurangan berat badan tingkat ringan.
·      WHR  =   LPi
   LPa
=   68,1
     90,0
=   0,76
Dari perhitungan diatas diperoleh hasil WHR Jurni = 0,76. Jadi berdasarkan klasifikasi WHR, Subjek V termasuk dalam kategori risiko moderate.
·      % BF  =  [(4,76/Db) – 4,28] x 100
Db  = 1,0897 – 0,00133 (Σ triceps + subscapular)
       = 1.0897 – 0,00133 (21 + 23)
       = 1,0897 – 0,00133 (44)
       = 1,0897 – 0,0585
       = 1,0312
% BF  =  [(4,76 / 1,0312) – 4,28] x 100
          =  [4,62 – 4,28] x 100
          =  34 %
Dari perhitungan diatas diperoleh % BF = 34 %. Berdasarkan klasifikasi % BF, maka subjek V termasuk dalam kategori obesitas.
Sedangkan untuk pengukuran LILA diperoleh hasil 26,0 yang berarti subjek termasuk dalam kategori normal.
f.     Ilham (Subjek VI)
·      IMT   =  BB (kg)
   (TB)2 (m)
=  56,9
  (1,619)2
=  56,9
    2,62
=  21,7
Untuk IMT yang berdasar pada tinggi lutut, digunakan rumus sebagai berikut:
TB (Laki-laki)        =  (2,08 x TL) + 59,01
                     =  (2,08 x 51,5) + 59,01
                     =  107,1 + 59,01
                     =  166,1
Jadi, IMT berdasarkan tinggi lutut adalah:
IMT   =  56,9
            (1,661)2
         =  56,9
             2,76
         =  20,6
Dari perhitungan diatas diperoleh hasil IMT Ilham = 21,7. Jadi berdasarkan klasifikasi IMT, Subjek VI termasuk dalam kategori Normal. Sedangkan berdasarkan tinggi lutut diperoleh nilai IMT = 20,6 sehingga subjek termasuk dalam kategori Normal
·      WHR  =   LPi
   LPa
=   64,5
     87,5
=   0,73
Dari perhitungan diatas diperoleh hasil WHR Ilham = 0,73. Jadi berdasarkan klasifikasi WHR, Subjek VI termasuk dalam kategori risiko low.
·      % BF  =  [(4,97/Db) – 4,52] x 100
Db  = 1,0913 – 0,00116 (Σ tricep + subscapula)
       = 1.0913 – 0,00116 (6 + 9)
       = 1,0913 – 0,00116 (15)
       = 1,0913 – 0,0174
       = 1,0739
% BF  =  [(4,97 / 1,0739) – 4,52] x 100
          =  [4,63 – 4,52] x 100
          =  11 %
Dari perhitungan diatas diperoleh % BF = 11 %. Berdasarkan klasifikasi % BF, maka subjek VI termasuk dalam kategori optimal.
Sedangkan untuk pengukuran LILA diperoleh hasil 25,1 yang berarti subjek termasuk dalam kategori normal.

F.    KESIMPULAN
Berdasarkan pengukuran IMT, diperoleh hasil yaitu 5 orang responden termasuk dalam kategori normal, dengan nilai IMT 20,4; 20,6; 20,6; 21,3; dan 21,7; serta 1 orang reponden termasuk dalam kategori kurus (kekurangan BB tingkat ringan) dengan IMT 17,3. Sedangkan hasil pengukuran IMT berdasarkan tinggi lutut diperoleh hasil 3 responden termasuk dalam kategori normal, dengan nilai IMT 17,9; 19,1; dan 20,6; 2 orang responden termasuk dalam kategori BB tingkat ringan (IMT 17,4 dan 17,5) serta 1 orang termasuk dalam kategori BB tingkat berat (IMT 14,8). Dari pengukuran ini, maka dapat disimpulkan bahwa pengukuran IMT berdasarkan tinggi lutut memiliki hasil yang jauh berbeda dibandingkan dengan pengukuran tinggi badan secara langsung (menggunakan microtoice).
Berdasarkan pengukuran WHR, diperoleh hasil 4 orang responden termasuk dalam kategori low (nilai WHR 0,70; 0,68; 0,70; dan 0,73). Sedangkan 2 orang responden lainnya termasuk dalam kategori Moderate (       WHR 0,74 dan 0,76).
Berdasarkan pengukuran % BF, diperoleh hasil yaitu 2 orang responden tremasuk dalam kategori optimal (19 % dan 11 %), 1 orang responden termasuk dalam kategori fat (31%), 1 orang responden ternasuk dalam kategori Slighly overfat (24%), serta 2 orang responden termasuk dalam kategori obesitas (34% dan 36%).
Sedangkan berdasarkan pengukuran LILA diperoleh hasil yaitu 5 orang responden termasuk dalam kategori normal dan 1 orang responden termasuk dalam kategori KEK (Kurang Energi Kronik).

 

Aulicious Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei